Vaksin Covid-19 Ditemukan, Siapa yang Berhak Dapat Duluan?

Jakarta, CNBC Indonesia – Setelah banyak produsen vaksin dengan melakukan uji coba untuk vaksin Covid-19 di berbagai negara, persoalan berikutnya yang muncul adalah sapa yang pertama kali berhak buat mendapatkan vaksin ini.

Hal ini mencuat di Amerika Serikat (AS). Otoritas kesehatan Amerika Serikat menargetkan selambatnya bulan aliran sudah mendapatkan rancangan pedoman vaksinasi untuk warganya.

Direktur National Institutes of Health Francis Collins mengatakan akan banyak orang yang merasa mereka paling berhak untuk mendapatkan vaksin terlebih dahulu.


“Tidak semua karakter akan menyukai jawabannya, ” logat Collins, dilansir dari AP , Minggu (2/8/2020).

Secara umum, kelompok pertama yang paling mempunyai untuk mendapatkan vaksin adalah petugas kesehatan dan orang-orang yang menyesatkan rentan terhadap infeksi.

Namun kemudian Collins melempar pikiran baru, yakni memprioritaskan orang-orang dengan yang secara geografis berada pada wilayah penyebaran virus paling tinggi.

Kemudian, pihak lainnya yang juga perlu menjadi masukan adalah relawan vaksin yang tidak semuanya mendapatkan vaksin asli masa melakukan uji coba. “Kita berhutang kepada mereka. Mereka seperti preferensi spesial, ” katanya.

Tak bisa dipungkiri, jumlah relawan yang melakukan uji coba vaksin ini jumlahnya cukup besar. Dalam Amerika sendiri, dari tiga vaksin yang diuji coba, yakni Moderna Inc. dan Pfizer Inc. Ketiganya masing-masing melibatkan 30 ribu relawan.

Belum lagi uji coba yang akan dilakukan oleh AstraZeneca, Johnson & Johnson serta Novavax. Juga termasuk vaksin dengan dibuat di Cina yang serupa diujicobakan di negara-negara lain walaupun jumlahnya lebih kecil.

Tak hanya Amerika Serikat, Sistem Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) juga tengah menghadapi dilema dengan sama. Keputusan makin sulit zaman negara-negara kaya dunia sudah mulai memojokkan pasar untuk mendapatkan vaksin duluan.

Di Amerika sendiri, Komite Penasihat Praktik Imunisasi yang seharusnya merekomendasikan kepada pemerintah juga tengah mempertimbangkan hal yang sama.

Kongres pula menyewa ahli etika dan mampu vaksin dari National Academy of Medicine untuk memberikan masukan pada pemerintah terkait hal yang sama.

“Menetapkan prioritas ini memerlukan akal sehat dan moral, ” kata Bill Foege, yang merancang strategi vaksinasi yang mengarah pada pemberantasan cacar secara global.

Lebih lanjut, Direktur CDC Robert Redfield mengatakan masyarakat kudu melihat keterbukaan mengenai pengalokasian vaksin ini. Menurut dia, ada potensi misinformasi mengenai vaksin ini serta gangguan politik.

CDC sendiri menyarankan untuk memberikan jumlah pertama vaksin ini kepada 12 juta penduduk dengan kondisi kesehatan tubuh paling kritis, tenaga keamanan nasional  dan pekerja penting lainnya.

Selanjutnya 110 juta diberikan kepada orang dengan risiko terpapar Covid-19 paling tinggi, termasuk penduduk berusia di atas 65 tarikh yang tinggal di fasilitas pembelaan jangka panjang. Atau orang-orang secara kondisi kesehatan buruk. Populasi yang lain bisa dilakukan setelah itu.

Lalu, di luar tempat kesehatan dan keamanan, yang menjelma pertanyaan apakah pekerja di pabrik unggas dan guru dianggap populasi penting? Lalu bagaimana dengan kemungkinan vaksin yang gagal di antara populasi yang rentan seperti dalam antara orang yang lebih bujang dan lebih sehat?

Pertimbangan lainnya adalah masyarakat miskin yang tinggal di lingkungan padat dan kurang mmemiliki akses untuk perawatan kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Sharon Frey dari Universitas St. Louis.

Henry Bernstein dari Northwell Health serupa mengungkapkan bahwa penting untuk mengabulkan vaksinasi kepada seluruh anggota keluarga ketimbang hanya memilih salah utama yang dianggap beresiko tinggi terjangkit virus.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)