Tulisan Utang Diborong Warga Lokal, RI Tak Roboh Digoyang Asing

Jakarta, CNBC Indonesia kepala Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merasa bangga karena saat itu, masyarakat Indonesia sudah berangkat mau berkontribusi membangun negeri dengan menjadi investor surat berharga negara (SBN).

Cakupan investor pada negeri yang banyak sekapur Sri Mulyani akan memperdalam pasar keuangan, sehingga menjadi stabil dan mampu untuk membangun negara secara berkelanjutan.

Artinya, rekan keuangan di dalam negeri tidak akan mudah termakan oleh gejolak yang terjadi global dan regional. Pendalaman dan memperluas investor ritel, kata Sri Mulyani menjadi penting. Dan segenap bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri.


“Ini penting sebab kadang kita sedang fokus untuk membangun, namun lalu ada perubahan di bagian bumi lain, namun dia bisa mempengaruhi perekonomian kita, ” jelas Sri Mulyani dalam webinar Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It), Selasa (3/8/2021).

Dalam penerbitan SBN Ritel seri 010, Sri mengucapkan basis investor terus menyusun dengan cakupan sebanyak 23. 337 investor yang berinvestasi di dalam SBR 010. Sebab jumlah investor tersebut sebanyak 9. 068 orang merupakan investor baru.

“Kita juga gembira yakni ada 9. 068 investor baru atau 38, 9% dari jumlah investornya tersebut adalah investor baru, ” tuturnya.

Artinya, lanjut Sri Mulyani ke-9. 068 orang tersebut adalah orang dengan baru pertama kali membeli SBR atau surat bernilai negara. Investor SBR 010 itu juga kata Sri Mulyani tersebar di seluruh wilayah Provinsi Indonesia.

Oleh karena tersebut, Sri Mulyani merasa kalau Indonesia masih berpotensi buat menambah investor di dalam penerbitan surat utang negeri selanjutnya. Cara meningkatkan jumlah investor itu, akan langsung dilakukan oleh Sri Mulyani bersama jajarannya.

“Jumlah 9. 068 nampaknya besar, namun jika dibandingkan penduduk Indonesia yang berjalan angka ini masih mungil. Artinya kita masih memiliki kesempatan untuk terus memerosokkan literasi keuangan dan pendalaman pasar dengan memperluas dasar investor, ” tuturnya.

Sri Mulyani membaca bahwa realisasi dari penerbitan SBR 010 pada bulan lalu, pihaknya bisa memobilisasi dana hingga Rp 7, 5 triliun. Angka tersebut kata dia adalah rekor penjualan tertinggi sepanjang penerbitan SBN Ritel.

“Walaupun bersifat non-tradable, sehingga menjadi harapan edukasi & literasi keuangan berdampak nyata pada perluasan basis investor, ” ujarnya lagi.

Pengelolaan APBN dengan prudent juga menjadi upaya pemerintah meyakinkan masyarakat untuk membeli SBN, terutama situasi pandemi Covid-19.

Pada masa pandemi juga pemerintah, kata Sri Mulyani terus berinovasi membangun platform distribusi secara online jadi masyarakat masih bisa melayani investasi pada SBN ritel dengan lebih mudah.

Sri Mulyani optimistis, Indonesia mampu menjadi negara yang mampu memperoleh pembiayaan dari di dalam negeri, mengingat juga adanya dana pihak ketiga di perbankan yang besar. Jika inklusi keuangan terus diperdalam dan diperluas, masyarakat bakal lebih nyaman menginvestasikan dananya, termasuk melalui instrumen SBN.

Sri Mulyani juga berharap tingkat inklusi keuangan Indonesia dapat ditingkatkan dari posisi 76% di tahun lalu menjadi 90% pada 2024.

[Gambas:Video CNBC]
(mij/mij)