Thai Airways Nyatakan Bangkrut, Refund Tiket Rp 11 T Gimana?

Jakarta, CNBC Indonesia – Maskapai penerbangan nasional Thailand, Thai Airways, menyatakan bangkrut dan tengah menjalani proses rehabilitasi utang di pengadilan. Namun langkah penyelesaian utang ini menyusun para pemegang tiket gigit jari karena tiket yang mereka beli tak bisa digunakan lagi.

Maskapai yang dioperasikan Thai Airways International PLC & sahamnya tercatat di Bursa Bangkok dengan kode saham THAI tersebut, sudah menghentikan layanan sejak April karena pandemi virus corona (Covid-19).

Sejak saat tersebut maskapai ini tak bisa sedang mengembalikan dana tiket kepada konsumen yang sudah telanjur membeli kartu.

Dikutip dari Thethaiger & BangkokPost , bagian public relation Thai Airways menegaskan  tak dapat menawarkan pengembalian uang masa ini karena Pengadilan Kepailitan Sentral di Bangkok menerima permintaan maskapai tersebut untuk melakukan rehabilitasi bersandarkan undang-undang kepailitan Thailand pada Rabu 27 Mei pekan lalu.



Nilai tiket yang tak bisa di- refund   tersebut diperkirakan mencapai 24 miliar baht Thailand atau setara dengan  Rp 11 triliun (asumsi kurs Rp 456 per baht).

Pemegang tiket dianggap sebagai kreditor, dan kongsi ini memiliki kewajiban berdasarkan adat yang mencegahnya untuk mengembalikan uang pada saat ini. Namun Thai Airways berjanji akan  mengembalikan uang dalam waktu 6 bulan tanpa biaya apa pun.

Pandemi  Covid-19 telah memaksa maskapai ini untuk menghentikan penerbangan. Pengembalian uang tanpa syarat hanyalah salah satu dari banyak solusi, pula termasuk mengubah tanggal perjalanan minus biaya, memperpanjang validitas tiket & menukar tiket untuk voucher kunjungan dengan nilai yang sama.

Thai Airways juga berniat untuk terus menjaga pelanggan yang memegang tiket yang valid, dan pelanggan pemegang kartu prioritas Serba banyak Orchid Plus.

Seorang juru bicara Thai Airways mengatakan maskapai itu yakin akan bisa membalikkan keadaan dan mengatasi krisis yang telah menimpa perusahaan penerbangan secara global ini.

Dalam situs resminya, maskapai ini menyebutkan bahwa mereka akan meneruskan operasi pada Juli mendatang, ketika perbatasan ekonomi perlahan mulai dibuka kembali dan penumpang bisa balik terbang.

“Namun, kembali [beroperasinya penerbangan] yang direncanakan pada Juli 2020 masih dalam pertimbangan. THAI sedang memantau situasi dan langkah-langkah pencegahan dan penguncian di pada setiap negara serta permintaan perjalanan untuk melanjutkan layanan ketika situasi Covid-19 membaik, ” tulis manajemen Thai, dilansir BangkokPost.

Otoritas Penerbangan Sipil Thailand ( Civil Aviation Authority of Thailand/CAAT) sebelumnya  telah melarang seluruh penerbangan internasional ke Thailand had akhir Juni ini.

Thai Airways saat ini dibebani utang luar biasa hingga mencapai 244, 9 miliar baht ataupun setara Rp 112 triliun. Dengan pernyataan kebangkrutan alias kepailitan ini, Thai Airways akan dilindungi lantaran penyitaan sampai masalah rehabilitasi utang diselesaikan dengan para kreditor serta disetujui oleh pengadilan, proses yang bisa memakan waktu hingga enam bulan.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)