Super Stimulus US$ 2, 3 Big t The Fed vs Pandemi Virus Corona

Jakarta, CNBC Indonesia   – Pasar keuangan Indonesia bergerak variatif sepanjang pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan  nilai tukar rupiah menguat, tetapi harga obligasi pemerintah masih myself lemah .

Sepanjang pekan kemarin, IHSG menguat tipis 0, 55 % , dengan investor asing masih membukukan jual bersih (net sell) Rp 1, 88 triliun. Pada perdagangan akhir pekan tepatnya Kamis kemarin (9/4/2020), IHSG membukukan kenaikan 0, 48% ke level 4. 649, ’08. Pada hari Jumat pasar ditutup untuk libur Jumat Agung.

 

Di pasar obligasi pemerintah, imbal hasil ( yield ) surat utang tenor ten tahun naik 0. 78% atau 63 basis poin (bps) dalam sepekan , n esaran 100 bps setara dengan 1%. Kenaikan produce menunjukkan harga instrumen ini sedang turun.

Meski menurun dalam sepekan kemarin, h arga obligasi RI mulai menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin p ada perdagangan Kamis (9/4/2020) di mana SBN membukukan penguatan 3, 9 bps karena p elaku pasar merespons positif upaya-upaya pemerintah dan bank sentral guna menjaga kestabilan pasar keuangan di tengah pandemi virus c orona.

Salah satu upaya terbaru dari pemerintah yaitu dengan menerbitkan tiga surat utang global senilai US$ 4, 3 miliar dengan tenor terpanjang 50 tahun atau setara Rp 68, 6 triliun dengan kurs Rp 16. 000 per US$.

“Ini adalah penerbitan terbesar dalam US bond dalam sejarah RI. Dan Indonesia juga jadi negara pertama yang menerbitkan sovereign bond sejak pandemic covid-19 terjadi, ” kata Sri Mulyani, Selasa (7/4/2020).

Mulai masuknya arus modal asing di pasar saham dan SBN membuat rupiah menguat. Selama minggu ini, rupiah ter apresiasi 3, 8 % sebesar Rp 600 menjadi Rp 15. 800 di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) alias greenback .

 

 

 

Sentimen pelaku pasar yang sedang bagus membuat rupiah menguat tajam pekan kemarin . Penyebaran pandemi COVID-19 yang mulai melambat memunculkan harapan segera berakhirnya masa karantina di beberapa wilayah/negara. Dengan begitu diharapkan roda perekonomian kembali berputar.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) yang menyepakati kerja sama  repurchase a greement   ( repo line   dengan Bank Sentral AS (The Fed) New York juga memberikan efek positif ke rupiah. The Fed New York nantinya akan menyiapkan stok dolar hingga US$ 60 miliar jika BI membutuhkan likuiditas .

“Ini bentuknya  repo line . Kerja sama dengan bank sentral termasuk BI dengan The Fed.   Repo line   ini adalah suatu kerja sama untuk kalau BI membutuhkan likuiditas dolar bisa digunakan, ” kata Perry, Selasa (7/4/2020). BI mengklaim keberhasilan kerja sama ini memberikan keyakinan kepada investor asing.

Sentimen yang mewarnai pergerakan pasar keuangan Indonesia pada pekan ini belum banyak berubah dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Investor masih berfokus ke pandemi virus corona yang cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan catatan terakhir dari situs Johns Hopkins University menunjukkan hampir 1, 8 juta lebih orang terpapar virus corona di lebih dari 180 negara, dengan angka kematian mencapai 110. 052 jiwa. Di Indonesia sendiri ada 4. 241 orang terinfeksi positif virus corona dan korban jiwa tercatat sebanyak 373 orang .

Kecepatan pertumbuhan kasus corona di Indonesia sedikit banyak membuat investor cemas. Ini membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pasar Surat Berharga Negara ( SBN ) masih dijauhi untuk sementara waktu.

“Perlambatan ekonomi terjadi di mana-mana sehingga investor tidak punya banyak pilihan. Kami melihat virus corona membuat investor tidak lagi melihat imbalan dalam berinvestasi. Investor memilih aset di negara yang dipandang virus corona lebih bisa dijinakkan melalui langkah-langkah penanggulangan, ” kata Stephen Innes, Chief Global Market di AxiCorp, seperti dikutip dari Reuters.


[Gambas:Video CNBC]