Sundal Bara Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan, Ini Obat Kuatnya

Jakarta, CNBC Indonesia –  Reli harga batu tidak keruan belum berhenti. Sampai dengan penutupan perdagangan Kamis kemarin (17/9/2020), kehormatan batu legam itu masih melesat dan kini berada di tangga tertinggi lebih dari 3  bulan terakhir.

Harga sundal bara termal Newcastle untuk janji yang aktif ditransaksikan di pasar ditutup menguat 0, 89% ke US$ 56, 5/ton dan mencatat level tertingginya sejak 4 Juni 2020.


Data negeri menunjukkan impor batu bara termal India turun 41, 5% menjelma 32, 9 juta ton sepanjang kuartal kedua. Penurunan ini diakibatkan oleh  kebijakan  lockdown   untuk menekan penyebaran pagebluk virus corona yang menurunkan suruhan terhadap listrik.

Reuters melaporkan permintaan listrik India diperkirakan turun untuk pertama kalinya pada empat dekade dalam tahun fiskal yang sedang berjalan, yang berakhir pada Maret 2021.

Kendati permintaan terhadap batu bara mengalami pelemahan sepanjang delapan bulan terakhir, kenaikan harga batu legam belakangan ini dipicu oleh sentimen positif yang datang dari Kampung Sakura.

Produksi baja mentah (crude steel) Jepang Agustus diperkirakan bakal naik dibanding secara bulan-bulan sebelumnya. Jika melihat masukan Juli, produksi baja kasar Jepang sudah mulai rebound.

Argus Media melaporkan produksi baja kasar bulan ketujuh tahun tersebut mencapai 6 juta ton ataupun naik 8% dibanding bulan Juni. Pabrik baja Jepang memproyeksikan sedikit pemulihan pada produksi baja Juli-September, didorong oleh kebangkitan industri otomotif domestik negara tersebut.

Nippon Steel berencana untuk meningkatkan produksi baja mentah pada Juli-September sebesar 7% dibandingkan April-Juni menjadi 7, 7 juta ton. Output perusahaan Oktober 2020-Maret 2021 diproyeksikan naik 13% dari April-September menjadi 17 juta ton.

JFE Steel serupa mengharapkan kenaikan 8% pada penerapan baja Juli-September menjadi 5, 2 juta ton dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Perusahaan sedang memeriksa prospek melanjutkan blast furnace yang dihentikan setelah Oktober sebagai tanggapan atas pulihnya permintaan.

Kenaikan produksi baja Jepang ini menjelma sentimen positif bagi harga akik bara lantaran kenaikan output memiliki korelasi positif dengan impor sundal bara kokas.

Jika industri otomotif Jepang terus hidup serta produksi baja terus menikmati pemulihan, maka kebutuhan batu tidak keruan kokas juga akan berangsur pulih. Ini akan menjadi sentimen pasti yang diharapkan mampu mengerek kehormatan batu bara yang selama itu tertekan.

TIM RISET CNBC  INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)