Sarjana Terapan D4 Jadi Terobosan Link dan Match di RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Lulusan sarjana terapan atau D4 dapat menjelma jawaban untuk industri masa depan. Terutama dengan pengembangan kompetensi dan pernikahan massal antara kampus vokasi secara dunia industri.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan sarjana terapan adalah solusi lantaran berbagai problem yang dirasakan banyak pihak. Dia menyebutkan dari sisi user pabrik dengan adanya lulusan D4 maka akan mendapatkan lulusan yang lebih kompeten secara soft skillnya lebih berpengaruh.

“Jadi ahli terapan kan 60% kuliahnya praktik, tapi mereka mempunyai soft skillnya lebih kuat seperti kemampuan komunikasi project base learning, leadership, mengkreasi riset terapan jd buatan berangkat dr permasalah jelas. Jadi sebenarnya kalau D3 bisa dibilang tanggung, ” kata Wikan dalam Webinar Sarjana Terapan, Jawaban Pabrik Masa Depan, Jumat (26/02/2021).


Ahli terapan mendapatkan kesempatan kandidat 1-2 semester di Pabrik, yang kurikulumnya sudah semenjak awal dibuat di pabrik. Sehingga ketika masuk ke industri, tidak perlu menyelenggarakan pelatihan tambahan dan soft skill yang dimiliki lestari kuat.

Kemudian dari sisi calon mahasiswa, penguatan sarjana terapan pun memiliki makna tersendiri. Wikan mengatakan lazimnya peserta didik masuk D3 karena terpaksa, sehingga tidak ada gairah ataupun pasionnya, begitu juga ketika telah lulus.

“Kalaupun lulusan D3 kerja tentu sadar kok tidak terangkat pangkat kemudian dia keluar ekstensi S1, yang hilang siapa ya industri, sebab sudah melatih susah-suah lalu ditinggal S1, ” katanya.

Dengan pengukuhan ini, maka anak-anak SMK/SMA yang masuk sudah dengan niat dan sesuai dengan minatnya. Solusi lainnya ialah yakni mengakselerasi D2 untuk sisi yang lebih teknikal, jika D3 upgrade menjadi D4 wajib bersama industri.

“Untuk D2, akan kami kejar dengan program SMK D2 fast track. SMK ditambah 3 semester full magang dual sistem. SMK dinikahkan dengan politeknik atau kampus vokasi nanti itu bisa untuk welding engineer, chef, atau operator, ” ujar Wikan.

Direktur Human Capital & Management PT PLN (Persero) Syofvi Felianty Roekman mengatakan sarjana terapan atau D4 vokasi harus terencana dari awal, laksana kurikulum yang dibuat berhubungan, hingga proses belajar mengajar, dan tahap seleksi. DALAM PLN, setelah direkrut tersedia job training dengan periode yang dipersingkat dari normal 9 bulan mahasiswa D4 bisa hanya 4, 5 bulan.

Tempat menyebutkan hal ini menjadi efisiensi di internal PLN, dan sudah merekrut 11 pegawai dari program itu. Tantangannya adalah dalam situasi pandemi Covid-19 ini timbul pertanyaan apakah PLN mau merekrut sebanyak yang direncanakan sebelumnya.

“Ini juga bisa disesuaikan dengan masa depan bisnis PLN yang renewable energy, kita bisa memberikan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan PLN masa depan, ” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Country Manager Jobstreet Faridah Lim mengutarakan kesempatan untuk sarjana terapan baru 4% dari kira-kira 5. 000-an lowongan dengan ada karena biasanya tak menyertakan secara spesifik. Ada tren bagi dunia industri D3 dan D4 tidak menyertakan perbedaan secara istimewa antara kualifikasi kedua lulusan tersebut.

“Perlu edukasi bagi dunia pabrik bahwa sarjana terapan siap pakai, dan ini ana ingin dikomunikasikan dengan dunia industri yang lulusannya siap pakai sehingga bisa lebih cepat penyerapannya, ” perkataan Faridah.

Tengah dari pelamar, lulusan D4 tidak memiliki kelompok tersisih dan masih sebatas S1 atau D3.

“Ini masukan untuk ana agar memasukan kelompok D4 di kualifikasi pelamar jadi tidak sebatas S1 serta D3 saja, ” prawacana dia.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan ada perbedaan suplai tenaga kerja secara permintaan dari sisi pabrik. Dari sisi suplai semakin tinggi pendidikannya makin kecil lulusannya, tapi dari bagian demand masih berbeda. Bersandarkan tingkat pendidikan pengangguran yang meningkat ada SLTA, SMK, dan Sarjana, sementara kelulusan pengangguran justru menurun.

Pada 2018 pengangguran SMK 1, 2 juta dan 2020 menjadi dua, 3 juta, untuk Sarjana 2018 sebanyak 710 ribu dan di 2020 terangkat menjadi 900 ribu. Kemudian Diploma di 2018 tersedia 443 ribu pengangguran, ketika pandemi di 2020 bahkan menjadi 305 ribu.

“Ini pentingnya dari melihat lulusan inilah dengan lebih cocok dengan negeri industri dengan melihat tren ke depan, dengan banyaknya perusahaan yang masuk, keinginan yang siap pakai semakin tinggi, ” ujar Faisal.

Tren ijmal pun sama, pertama secara perkembangan teknologi kebutuhannya mengarah pada skill yang terbuka teknologi di semua daerah. Kemudian tren globalisasi, artinya perpindahan antar negara semakin mudah yang harus diantisipasi. Lalu, tren dari sisi demografi, dengan bonus demografi di Indonesia maka tantangan penciptaan lapangan kerja semakin berat.

“Jadi kompetensi yang mana paling cepat bisa menjawab hajat industri itulah yang mampu diserap di dunia industri, ” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)