Saham Astra dan BCA Diobral Asing, IHSG Sesi I Rontok

Jakarta,   CNBC   Indonesia  Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada  pe rdagangan   awal pekan Senin   ( 21 /9/20) tertekan yakni turun 0, 22% di level 5. 048 , 18 setelah rumor independensi Bank Indonesia (BI) balik santer.

Data perdagangan menyimpan, investor asing melakukan  aksi  jual  bersih sebanyak Rp  127   miliar  pada pasar reguler hari ini  dengan nilai transaksi  hari  ini mengenai Rp  2, 8 triliun .

Saham dengan paling banyak dilego  asing hari ini adalah PT  Astra Internasional   Tbk   ( ASII ) dengan  jual  bersih sebesar Rp  17   mil iar   & PT  Bank Central Asia   Tbk   ( BB CA ) yang mencatatkan  net sell  sebesar Rp  17   miliar.


Tengah itu s aham   yang paling banyak d ikoleksi   asing hari ini adalah PT  Bank Kaum Indonesia   Tbk   ( BBRI ) dengan  beli  bersih sejumlah Rp  6   mil iar   dan PT Sarana Menara Nusantara   Tbk   ( TOWR ) dengan  net buy  sebesar Rp 13 miliar.

S entimen dari dalam kampung soal Bank Indonesia (BI) dengan akan kembali menjadi pengawas pabrik perbankan. Kabar ini kembali pegari di pasar. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan perubahan payung hukum tersebut tak lama lagi dibahas pemerintah bersama DPR.

Hal tersebut menimbulkan isu  terhadap independensi BI  akan kembali menggoyahkan minat para pelaku pasar dan investor untuk berinvestasi. Ada kemungkinan pelaku pasar dan investor akan melakukan  capital outflow   kembali terkait akan hal ini semacam yang kita lihat beberapa masa lalu.

Selanjutnya  bursa di kawasan Asia terpantau  bervariatif ,   Hang Seng Index di Hong Kong  turun 0, 95 %,   sedangka n Indeks  STI   pada Singapura terapresiasi 0, 24 % , dan Indeks SSE di China turun 0, 41% .

Beralih ke bursa saham New York, Jumat dini hari kemarin tiga indeks utama Wall Street berdarah . Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 0, 8 %. Buat indeks S& P 500 & Nasdaq Composite masing-masing ter de presiasi  satu, 12 % dan 1, 07 %.

The Fed saat mengumumkan kebijakan moneter menyatakan tidak akan menaikkan suku kembang hingga tahun 2023, sementara rencana pembelian aset ( quantitative easing /QE) masih akan dilakukan dengan nilai yang cocok seperti saat ini. Artinya, tidak ada stimulus tambahan dari bank sentral paling powerful di dunia tersebut.

Sementara itu dari pemerintah, Presiden AS Donald Trump, mengindikasikan stimulus yang lebih besar dari US$ 2 triliun. Meski demikian Partai Republik, dan Demokrat masih belum sepakat akan besarnya stimulus tambahan yang akan digelontorkan.

Ketegangan GANDAR dengan China juga memperburuk sentimen pelaku pasar, hal ini berlaku setelah Pemerintah AS mengatakan bakal memblokir TikTok dan WeChat di dalam minggu (20/9/2020). Rencana tersebut hidup di tengah upaya Oracle menjadi mitra TikTok di AS, dan menjadi pemegang sama minoritas.

TIM RISET  CNBC   INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(trp/trp)