Sad! Suspensi Dibuka, Reli 13 Hari Saham Fintech Itu Terhenti

Jakarta, CNBC Indonesia awut-awutan Bagian emiten teknologi finansial (financial technology/fintech) dan perdagangan elektronik PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) ambruk ke zona merah pagi tersebut, Kamis (10/6/2021). Anjloknya bagian HDIT terjadi setelah Pasar uang Efek Indonesia (BEI) menelungkupkan suspensi saham mulai cepat ini.

Menurut data BEI, pukul 09. 26, saham ini ambles 5, 59% ke Rp 675/saham. Dalam 5 Menit setelah introduksi, saham ini sempat turun hingga menyentuh auto rejection bawah (ARB) 6, 99% ke Rp 665/saham.

Dengan ini, lonjakan ‘liar’ bagian HDIT selama 13 hari beruntun terpaksa terhenti. Pokok tahu saja, dalam 13 hari terakhir, saham HDIT sudah meroket 383, 11%.


Kendati anjlok, di dalam sepekan saham ini sedang melejit 60, 80%, sementara dalam sebulan masih naik tinggi 356, 67%.

Sebelumnya, pada Rabu (9/6), BEI ‘menggembok’ saham HDIT dalam rangka cooling down , setelah bagian ini mengalami peningkatan nilai kumulatif yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Pra ‘digembok’ oleh bursa, saham HDIT sebelumnya sudah merembes ke dalam daftar bagian Unusual Market Activity (UMA) pada Senin (7/6) awut-awutan, karena sahamnya bergerak di luar kebiasaan.

Menanggapi UMA dari BEI, manajemen HDIT menjelaskan, informasi yang final perusahaan sampaikan adalah penjelasan atas volatilitas transaksi di dalam tanggal 31 Mei 2021.

“Sampai dengan saat itu, tidak ada informasi material yang belum disampaikan ke Publik, ” kata Sekretaris Perusahaan Hensel Ferdiana.

Selain itu, perseroan mengaku tidak mengetahui kebenaran/ketidakbenaran atas sebagian/seluruh dari informasi yang menyatu HDIT yang beredar sebagai rumor atau beredar pada media massa.

Sebelumnya, menanggapi surat seruan penjelasan atas volatilitas saham dari pihak bursa, di 31 Mei lalu, manajemen HDIT menegaskan, hingga saat ini perusahaan tidak/belum keahlian adanya informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga saham kongsi.

Selain itu, kata Penulis Perusahaan Hensel Ferdiana membaca, sampai sekarang perseroan tidak/belum mengetahui adanya aktivitas sejak pemegang saham tertentu yang bisa memengaruhi gerak saham HDIT.

Menanggapi pertanyaan BEI mengenai rencana aksi korporasi (corporate action) dalam zaman dekat, misalnya dalam 3 bulan ke depan, HDIT mengaku tidak punya agenda aksi korporasi dekat-dekat itu.

“Perseroan belum memiliki jadwal melakukan corporate action dalam waktu dekat, ” jelas Ferdiana, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (2/6).

HDIT mulai melantai pada bursa pada 12 Juli 2019. Saham perusahaan fintech pertama di bursa tersebut tercatat di papan perniagaan utama.

Menurut catatan CNBC Indonesia, saat diperdagangkan perdana, saham HDIT melejit ke auto reject atas (ARA) naik 49, 52% ke Rp 785 per bagian saat pencatatan perdananya, dibuka di harga Rp 525 per saham.

Saat tersebut, saham HDIT diperdagangkan dengan frekuensi sebanyak 1 kali dengan volume 10 lot saham dan menghasilkan biji transaksi sebesar Rp 785. 000.

Dengan melepas 381, 17 juta sahamnya ke publik, perusahaan waktu itu memperoleh dana segar senilai Rp 200, 11 miliar.

Perusahaan yang berdiri pada 2013 ini bergerak dalam bidang multi-biller dengan usaha pertama sebagai dari pulsa elektrik hingga ke prepaid listrik dan biller lainya seperti BPJS dan PDAM.

Kemudian, pada 2015 diluncurkan DavestPay untuk menyasar segmen B2C. Saat ini, Hensel Davest Indonesia memiliki lebih dari 150. 000 jaringan agen yang tersebar pada seluruh Indonesia dan memproses lebih dari 600. 000 transaksi dari ratusan buatan per harinya.

TIM PENELITIAN CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(adf/adf)