Penimbang Dagang Diramal Surplus, Akankah Happy Monday Hari Ini?

Jakarta, CNBC Indonesia –  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan Jumat (12/6/20) ditutup di daerah hijau di menit terakhir perniagaan, dengan naik 0, 53% ke 4. 880, 35 setelah sempat drop hampir 3% pada bagian 1. Hari ini, data perniagaan bakal dicermati, karena berpeluang menyerahkan alasan untuk koreksi lanjutan.

Meski berhasil menguat di dalam Jumat, IHSG secara mingguan masih tertekan 1, 36% jika dipadankan dengan posisi akhir pekan lalu di level 4. 947, 78. Di sisi lain, pasar obligasi juga tertekan yang terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi bertenor 10 tahun yang menjadi acuan (benchmark) di pasar.

Imbal hasil surat utang seri FR0082 tersebut naik satu, 84 persen poin menjadi 7, 2%. Imbal hasil bergerak berkebalikan dari harga obligasi, sehingga kemajuan imbal hasil tersebut mengindikasikan ralat harga.


Koreksi sepekan kemarin terjadi sesudah pemodal asing keluar dari rekan, menyusul kekhawatiran penyebaran infeksi Covid-19 di tengah pelonggaran karantina provinsi ( lockdown ) di Amerika Serikat (AS) & Indonesia.

Kasus corona baru di AS meningkat menjelma 20. 248 kasus per keadaan (pada Kamis) dari sebelumnya 17. 376. Secara total, jumlah pengidap virus corona mencapai 2 juta orang di AS dengan 116. 000 korban jiwa. Indonesia melaporkan rekor  tambahan kasus perdana sebanyak 1. 042 kasus dalam Selasa (9/6/2020) dan sebanyak 1. 241 kasus pada Rabu (10/6/2020).

Dengan naiknya kasus harian ini, pasar merancang ulang peluang pemulihan ekonomi secara cepat, apalagi setelah The Fed memprediksi ekonomi 2020 agak suram dengan kontraksi -6, 5%. Kewaswasan itu memicu mereka mengurangi pemindahan dana di aset berisiko pada negara berkembang, sehingga berujung di dalam aksi jual di bursa saham nasional.

Berdasarkan petunjuk RTI, sepanjang pekan ini investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 1, 74 triliun atau berbalik dari situasi beli bersih (net buy) minggu lalu sebesar Rp 3, 45 triliun. Nilai transaksi selama sepekan ini menyentuh Rp 55, 9 triliun.

Di sedang situasi demikian, Mata Uang Garuda menghadapi kenyataan harus terkoreksi sejumlah 1, 55% secara mingguan ke level Rp 14. 065 bohlam dolar AS.