Nasib Emas! Belum Berhenti Terhempas dalam Awal 2021

Jakarta, CNBC Indonesia –  Pada setiap kali harga emas mengalami kritik, fenomena koreksi ( pull back ) selalu memasukkan. Hal ini membuat harga emas cenderung stagnan belakangan ini.

Memasuki bulan Januari tarikh 2021, harga emas mencapai tangga tertingginya pada 5 Januari lalu. Kala itu harga emas dibanderol di US$ 1. 949, 35/troy ons. Namun setelah itu kehormatan emas anjlok.

Harga si logam kuning tersebut makin sempat drop ke level terendah pada pertengahan bulan. Di arena pasar spot emas sempat dipatok di US$ 1. 826, 59/troy ons pada 15 Januari 2021.


Setelah ambles makna emas berangsur menguat. Emas benar belum bisa tembus level psikologis US$ 1. 900/troy ons. Namun pada  pertengahan pekan lalu setidaknya harga emas tembus level US$ 1. 870/troy ons.  

Per keadaan ini, Selasa (26/1/2021), harga aurum cenderung flat. Emas hanya siap menguat tipis 0, 03% lantaran posisi penutupan kemarin. Untuk satu troy ons emas harganya beruang di US$ 1. 855, 78 di pasar spot.

Kendati kondisi makroekonomi masih positif untuk emas, namun komoditas ini membutuhkan katalis yang lain untuk bisa bergerak merangkak terangkat. Salah satu yang menjadi sorotan pelaku pasar adalah kebijakan bank sentral AS Federal Reserves (The Fed).

Ketua The Fed Jerome Powell dikabarkan bahan memberikan konferensi pers pada Rabu. Pasar sempat mengkhawatirkan perubahan kebijaksanaan moneter di AS. Kebijakan injeksi likuiditas berupa program pembelian aset sempat dikhawatirkan bakal mulai dikurangi.

Namun dalam konferensi pers Jerome Powell terakhir, rumor tersebut dibantah. Kebijakan otoritas moneter paling berpengaruh di dunia itu masih akan tetap longgar. Suku bunga acuan juga tidak akan dinaikkan setidaknya sampai tahun 2023. Itulah yang disampaikan oleh pembesar The Fed.

Adanya kemungkinan perubahan kebijakan moneter yang diantisipasi oleh pelaku pasar sungguh membuat imbal hasil ( yield ) obligasi negeri AS mengalami kenaikan. Hal itu membuat harga emas sebagai lengah satu aset tak berimbal hasil tertekan, apalagi dibarengi dengan rebound dolar AS yang selama ini langsung melemah.  

Dengan kebijakan makro yang masih akomodatif seharusnya menjadi hal yang pasti untuk emas. Di bawah pemerintahan Joe Biden, stimulus fiskal jumbo kemungkinan juga masih akan digelontorkan.  

Namun saat ini selera para pelaku pasar sedang suka berburu risiko untuk mendapatkan cuan lebih tebal ke aset-aset seperti ekuitas hingga cryptocurrency  yang membuat harganya terus merasai kenaikan. Hal inilah juga yang membuat harga emas sulit seluruhnya untuk kembali ke level tertingginya sepanjang sejarah ( all time high ).

TIM RISET CNBC  INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)