MENODAI Ternyata Raup Capital Inflow Terbesar Se-Asia Tenggara!

Jakarta, CNBC Indonesia – Jelang kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) mengurangi suntikan likuiditas di pasar, negara-negara Asia Tenggara justru sedang mencetak aliran dana langka yang masuk ( capital inflow ). Hal ini mengindikasikan kecilnya risiko  taper tantrum ke aliran.

JPMorgan dalam laporan berjudul “Flows & Positioning: Rotation, Rebound, Taper Anxiety” menuturkan semua negara anggota Perkumpulan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN) mencatatkan aliran modal meresap ke negara mereka sepanjang bulan Agustus lalu.

Indonesia berada di letak teratas di antara negara ASEAN tersebut dengan bayaran capital inflow sebesar US$ 311 juta atau sepadan Rp 4, 4 triliun, diikuti Malaysia sebesar US$ 251 juta, Thailand (US$ 175 juta), dan Filipina (US$ 33 juta). Sebaliknya, Vietnam mencetak aliran ragam asing keluar ( capital outflow ) senilai US$ 277 juta.


“Menguatnya kembali aliran dana langka ke kawasan tersebut berlaku selama 6 bulan beruntun, dipicu oleh pelonggaran penyekatan sosial secara bertahap, mengaburnya Covid-19, kenaikan tingkat vaksinasi, dan posisi tipis para-para investor dan investasi ganjil untuk rotasi, keluar dibanding China, ” tulis bank investasi asal Amerika Konsorsium (AS) tersebut dalam petunjuk yang dirilis Rabu (8/9/2021).

Berdasarkan realitas tersebut, JPMorgan memperkirakan kebijakan tapering (pengurangan pembelian obligasi) oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan dijalankan tahun ini kecil peluang akan memicu pola gelom1 dana asing keluar dalam Asia seperti tahun 2013.

Pemicunya, menurut JP Morgan, adalah aliran dana asing ke pasar obligasi negeri ASEAN yang dalam setahun terakhir tidak sederas seolah-olah yang terjadi pada tarikh 2013. Di sisi asing, cadangan devisa negara-negara ASEAN juga telah meningkat signifikan, cukup untuk mengatasi buntut negatif yang mungkin hidup dari tapering .

Di sisi asing, ekonomi di Asia Tenggara secara fundamental juga sudah semakin kuat, di mana ekonomi negara di daerah tersebut tidak sedang kepanasan ( overheated ). Inflasi inti juga terkendali, dan tidak ada kerentanan gobal yang bisa membahayakan meski defisit fiskal mereka membengkak akibat pandemi.

Sementara itu, JP Morgan menyebutkan bahwa di pura saham Asia Tenggara di 5 tahun terakhir malah mencetak capital outflow senilai US$ 30 miliar secara kepemilikan asing yang minoritas sehingga tidak ada efek balon besar hot money yang bisa mengempis ketika tapering dijalankan di GANDAR.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)