MENODAI Bakal Gandeng China Menyusun Harta Karun Super Langka

Jakarta, CNBC Indonesia – RI dianugerahi “harta karun” super langka dengan banyak diincar dunia sebab manfaatnya yang luar lazim di era modern era ini.

“Harta karun” super langka itu bernama logam tanah kurang (LTJ) atau rare earth element . Sederet manfaat logam negeri jarang ini antara lain mulai dari bahan dasar baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika hingga penyemangat listrik berbasis energi segar terbarukan (EBT), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB). Lalu, bisa juga untuk bahan baku industri pertahanan hingga organ listrik.

Tetapi sayangnya, logam tanah jarang di Indonesia belum juga digarap dan dimanfaatkan untuk kepentingan domestik.


Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono mengatakan, untuk meneliti logam tanah jarang ini lebih lanjut, pemerintah mau menggandeng negara-negara yang sudah menguasai teknologinya, seperti China.

“Kami dalam Kementerian ESDM di Institusi Geologi sudah buat utama rencana terkait penyelidikan LTJ, baik jangka pendek dan jangka panjang, ” ungkapnya dalam Closing Bell CNBC Indonesia, Kamis (09/09/2021).

Dia mengatakan, Badan Geologi punya beberapa kegiatan sebagai upaya mengembangkan LTJ ini, di antaranya eksplorasi, menyediakan informasi keterdapatan sumber LTJ yang bersumber dari berbagai penelitian, pelaku daya, dan institusi lainnya.

“Juga rencana kerja sama dengan negara-negara dengan kuasai teknologi tanah kurang seperti Tiongkok. Di kian ada Badan Geologi serupa China Geological Survey, ” ujarnya.

Pemetaan geologi unsur logam dengan ada di Sumatera menurutnya sudah dilakukan cukup panjang. Namun, perlu ditingkatkan teristimewa di daerah lain yang punya potensi logam desa jarang.

“Di sektor hulu ada 3, pertama yaitu program rutin penemuan prospek dan status sumber daya agar bertambah mendekati akurasi. Kedua, rencana jangka pendek fokus dalam mineral ikutan timah & wilayah yang mungkin diusulkan jadi wilayah pengusahaan logam tanah jarang, ” paparnya.

Dan belakang, rencana jangka panjang yakni melakukan penyelidikan di wilayah hijau ( green area ) dengan masuk ke daerah yang secara regional dan interpretasi geologi kemungkinan akan ditemukan LTJ.

“Ketiga, rencana jangka panjang pengkajian green kawasan , ” imbuhnya.

Berdasarkan buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” Lembaga Geologi Kementerian ESDM di 2019, logam tanah kurang (LTJ) ini merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk “critical mineral” yang terdiri dari 17 unsur, antara lain scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Meskipun demikian, unsur-unsur itu sangat sukar untuk ditambang karena konsentrasinya tidak pas tinggi untuk ditambang secara ekonomis. Ketujuh belas bagian logam ini mempunyai penuh kemiripan sifat dan kala ditemukan bersama-sama dalam utama endapan secara geologi.

Mineral yang menyimpan LTJ utama adalah bastnaesit, monasit, xenotim, zirkon, dan apatit. Mineral tersebut adalah mineral ikutan dari mineral utama seperti timah, emas, bauksit, dan laterit nikel.

Tidak hanya itu, ternyata logam tanah jarang juga berpotensi ada pada batu bara.

Adapun cadangan logam tanah jarang terbesar negeri terdapat di China. Selain penyimpan logam tanah kurang terbesar di dunia, China juga merupakan produsen LTJ terbesar di dunia.

Selain China, LTJ juga dijumpai di Amerika Serikat, tepatnya Mountain Pass AS, lalu Olympic Tanggul di Australia Selatan dalam mana 1980-an ditemukan cebakan raksasa yang mengandung sebanyak besar unsur-unsur tanah kurang dan uranium. Selain tersebut, tersebar juga di Rusia, Asia Selatan, Afrika bagian selatan dan Amerika Latin.

[Gambas:Video CNBC]
(wia)