Masker Kain Filter Hepa Disebut Bahayakan Kesehatan, Kenapa?

Jakarta, CNBC Indonesia semrawut Masker kain yang filter Hepa dianggap lebih efektif dari masker N95 untuk mencegah penularan bervariasi virus termasuk Covid-19. Namun kedok ini mengandung bahaya bagi kesehatan tubuh.

Ini merupakan buatan riset dari University of Cambridge dan Northwestern University dan telah dipublikasikan di jurnal online BMJ Open, seperti dikutip dari posisi University of Cambridge, Senin (2/11/2020).

Filter HEPA ialah bahan yang biasa digunakan untuk menyaring debu dalam vacuum cleaner. Bahan ini juga umum ditemukan dalam berbagai air purifier.


Untuk membuktikan efektivitas penyaring masker, peneliti melakukan test ada masker dari sejumlah kain, mulai dari kaus sampai jeans. Pengkajian ini dimaksudkan untuk menentukan macam bahan masker kain apa yang paling efektif dalam mencegah virus Covid-19.

Para peneliti menguji keefektifan kain yang berbeda dalam menyaring partikel antara 0, 02 dan 0, 1 mikrometer, seukuran dengan sebagian virus. Penelitian dilakukan dengan kecepatan partikel yang cukup tinggi, yakni sebanding dengan batuk atau napas berat. Mereka juga menguji N95 dan masker bedah, yang lebih umum digunakan dalam pengaturan pembelaan kesehatan.

Salah utama peneliti, Eugenia O’Kelly dari Fakultas Teknik Cambridge, menyatakan bahwa para-para peneliti berkonsultasi dengan komunitas penjahit online untuk mengetahui jenis kain apa yang mereka gunakan untuk membuat masker. Karena kekurangan masker N95 pada saat itu, kira-kira peneliti melaporkan bahwa mereka bereksperimen dengan memasukkan kantong vakum filter HEPA ke dalam masker.

Para peneliti menemukan kalau kantong vakum baik yang sekali pakai atau yang dapat digunakan kembali efektif dalam memblokir partikel-partikel kecil.

Namun para-para peneliti menyatakan bahwa kantor penapis HEPA sekali pakai tidak boleh digunakan sebagai masker wajah. Pasalnya, ada komponen yang mungkin jatuh saat pemotongan, dan mungkin mengandung bahan komponen yang tidak tenteram untuk dihirup.

“Ini masalah menemukan keseimbangan yang tepat – kami ingin bahannya efektif dalam menyaring partikel, tetapi ana juga perlu tahu bahwa mereka tidak membuat para pengguna masker berisiko menghirup serat, yang mampu berbahaya, ” kata Eugenia O’Kelly.

Meski begitu, para-para peneliti mengingatkan ada beberapa batasan dalam penelitian ini: mereka tidak melihat peran fit dalam menapis partikel. Namun, Eugenia O’Kelly mengucapkan bahwa hasil tersebut mungkin berarti bagi penjahit dan pembuat masker saat memilih kain yang mau digunakan untuk membuat masker.

“Kami telah menunjukkan bahwa dalam situasi darurat di mana masker N95 tidak tersedia, sesuai pada hari-hari awal pandemi ini, masker kain secara mengejutkan efektif dalam menyaring partikel yang kira-kira mengandung virus, bahkan pada kemajuan tinggi, ” terangnya.

(roy/dob)