Luhur Podomoro Sekarat? Moody’s Pangkas Peringkat jadi Caa1-

Jakarta, CNBC Indonesia – Institusi pemeringkat internasional, Moody’s Investor Service memutuskan untuk memotong peringkat utang dari kongsi properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjelma Caa1 dengan outlook negatif (Caa1-).

Peringkat Caa1 APLN mencerminkan ekspektasi bahwa likuiditas perseroan masih lemah dalam 2021 dan 2022, karena perusahaan bergantung pada penjualan aset dan pendanaan eksternal untuk memenuhi kebutuhan kekayaan tunai.

Struktur simpanan APL juga tidak berkelanjutan, seperti yang ditunjukkan oleh leveragenya yang tinggi.


APLN diharapkan untuk menyelesaikan penjualan lahan industri dan penjualan sisa sahamnya dalam Central Park Mall di tahun 2021.

Tetapi Moody’s mengharapkan ketidakpastian seputar pengerjaan tepat waktu kedua pemasaran aset, mengingat penerapan Penyekatan Kegiatan Publik (PPKM) Penting Indonesia, khususnya di tempat Jawa dan Bali, sesudah lonjakan kasus virus corona (Covid-19) di kedua daerah tersebut.

“Kami memperkirakan penerimaan APLN dari properti investasinya tidak berubah pada tahun 2021 dari tahun 2020, tapi pendapatan dari bisnis pengembangannya akan turun dengan signifikan jika penjualan substansi tidak dijalankan. Dengan begitu, metrik kredit APL akan melemah selama 12-18 kamar ke depan. ” sekapur Moody’s dalam laporannya.

Sebelumnya pada kuartal I tarikh ini, APLN mencatatkan kemerosotan pendapatan yang sangat signifikan. Pendapatan APLN tercatat mencapai Rp 485, 44 miliar, ambruk 63% dari masa yang sama tahun berserakan Rp 1, 32 triliun.

Adapun beban pokok penjualan dan beban langsung lulus ditekan menjadi Rp 299, 84 miliar dari sebelumnya Rp 772, 99 miliar.

Perseroan bahkan masih bisa mencetak laba kotor Rp 185, 60 miliar sebab sebelumnya Rp 548, 58 miliar.

Hanya saja penurunan pendapatan ditambah dengan pikulan perusahaan, beserta rugi kurs membuat APLN masih mencetak rugi bersih. Hingga Maret lalu, rugi kurs APLN tercatat mencapai Rp 163, 69 miliar kendati lulus dipangkas dari sebelumnya rugi kurs hingga Rp 1, 05 triliun.

Kontribusi penjualan terbesar APLN di Q1 yakni daripada pendapatan dari sewa yakni mencapai Rp 177, 38 miliar dari sebelumnya Rp 237, 84 miliar serta berikutnya penjualan apartemen mencapai Rp 118, 55 miliar, meski turun dari Rp 902, 19 miliar.

Tadbir APLN, dalam keterangan dalam laporan keuangan menyatakan pemerintah Indonesia memang mengambil kecendekiaan PPKM dalam rangka menghalangi penyebaran dari pandemi Covid-19.

“Pembatasan ini mengakibatkan perlambatan aktivitas ekonomi global dan mempengaruhi permintaan barang & jasa. Namun demikian, operasi kami di tahun 2021 menunjukkan perbaikan dibandingkan secara tahun sebelumnya yang ditandai dengan meningkatnya pemanfaatan kapasitas produksi, ” tulis tadbir APLN, dikutip Rabu (30/6/2021) lalu.

Manajemen juga telah mempersiapkan sejumlah langkah mitigasi dan manajemen risiko yang diperlukan.

Tetapi demikian seberapa besar & luas dampak dari pandemi tersebut terhadap kondisi keuangan, likuiditas dan hasil proses masa depan perusahaan sulit untuk ditentukan.

“Hasil dari operasi, posisi keuangan, dan likuiditas perusahaan, setidaknya buat tahun 2021, akan dipengaruhi oleh sejauh mana jalan pandemi Covid-19 tersebut, ” tulis manajemen APLN.

Tahun lalu, APLN membukukan kinerja yang kurang menggembirakan dengan rugi bersih Rp 136, 79 miliar. Jumlah itu lebih dalam alias gembung 1. 479% ketimbang habis bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 8, 66 miliar.

Kendati kembali merugi, penjualan dan pendapatan daya emiten yang melantai pada bursa pada 2010 semrawut ini naik 30, 69% ke posisi Rp 4, 96 triliun per akhir tahun lalu, dari Rp 3, 79 triliun di 2019.

[Gambas:Video CNBC]
(chd/chd)