Kudeta Myanmar Makin Seram, Aktivis-Biksu Diculik Malam Hari

Jakarta, CNBC Indonesia porakporanda Demo massa yang menentang kudeta Aung San Suu Kyi sebab militer Myanmar makin memanas. Pada hari kedelapan unjuk rasa, ribuan massa kembali turun ke berkepanjangan di sejumlah kota besar kaya ibu kota Nypyitaw, Yangon serta Mandalay.

Melansir Reuters , unjuk menemui kali ini merupakan yang terbesar yang pernah terjadi sebelumnya. Kawula dilaporkan makin marah ke junta karena aksi penculikan yang dikerjakan ke banyak aktivis pro Suu Kyi.


“Hentikan penculikan di malam hari, ” kata seorang pengunjuk mengecap di Yangon, Sabtu (13/2/2021).

Kantor hak asasi pribadi untuk PBB mengatakan lebih dibanding 350 orang, termasuk pejabat, tokoh, biarawan, ditangkap sejak penahanan Suu Kyi 1 Februari lalu. Apalagi beberapa menghadapi tuntutan pidana secara alasan yang dianggap dibuat-buat.

Sebuah gambar juga menyebar di negara itu yang menunjukkan bagaimana kritikus, termasuk seorang dokter, ditangkap pada suangi hari oleh militer. Meme bertulskan “Malam kita tak aman lagi” dan “Militer Myanmar menculik di malam hari” beredar luas dalam media sosial.

Uni Bantuan untuk Tahanan Politik Myanmar menyuarakan keprihatinan. Banyak anggota tim aktivis tak memiliki akses status aktivis yang diamankan militer.

“Ini bukan insiden yang terisolasi. Penggerebekan malam hari menargetkan suara-suara yang berbeda pendapat. Tersebut terjadi diseluruh negeri, ” sebutan lembaga itu dalam sebuah penjelasan.

Sayangnya pemerintah belum memberi komentar.

Sebelumnya, pada Jumat, kekerasan mewarnai pertunjukan anti kudeta, Dalam rekaman dengan disiarkan Radio Free Asia, enam tembakan dilepaskan polisi untuk menutup pengunjuk rasa.

Ulah kekerasan ini bukan satu-satunya yang terjadi di negeri Pagoda Emas. Sebelumnya dikabarkan seorang pendemo wanita tertembak di kepala pada Selasa dan petugas medis mengatakan dia tidak akan selamat.

Kudeta Myanmar telah terjadi semenjak awal pekan lalu. Ini menjadi simbol dihentikannya demokrasi di negara itu sejak 2011, setelah selama 49 tahun dikuasai militer.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)