Kondisi Lagi ‘Berdarah-Darah’, Pengusaha Taksi Kini Ngamuk!

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) akan menerapkan pemasangan etiket untuk angkutan sewa istimewa (ASK) di Jabodetabek, lengah satunya taksi online.

Hal ini menanggung kecaman dari transportasi ijmal kovensional  di bawah naungan  Organisasi Angkutan Darat (Organda), sebaba  taksi konvensional makin terpuruk karena pandemi.

Dari penggunaan etiket itu, ASK termasuk taksi online dibebaskan dari kebijaksanaan ganjil – genap. Apalagi rencananya akan mendapatkan sumbangan bahan bakar minyak.


Ketua Ijmal DPD Organda    DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, mengucapkan keberatan dengan rencana peluncuran pemasangan stiker ASK itu, karena kondisi situasi transportasi umum sudah sangat turun.

“Organda pula tidak pernah mendapatkan undangan untuk pembahasan maupun peluncuran pemasangan stiker itu, ana mohon agar pemasangan etiket ASK itu dianulir atau dihentikan, ” jelasnya pada CNBC Indonesia, Jumat (20/8/2021).

Shafruhan sudah mengajukan surat resmi terkait penolakan hal ini. Daripada surat resmi DPD Organda yang diterima CNBC Indonesia, tembusan surat ini disampaikan kepada Menteri Perhubungan, Dirjen Perhubungan Darat, hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan kepala pemerintahan wilayah lainnya.

“Jika surat yang sudah dikirimkan tidak mendapat respons pasti, DPD Organda berbagai kawasan akan bereaksi, ” jelasnya.

“Penerapan stiker ini juga sudah melupakan Putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 37 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Karakter, ” jelasnya.

Shafruhan juga bicara melanggar persaingan bisnis antara taksi online dan konvensional itu sudah menjadi permasalahan periode yang belum selesai. Yang mana perusahaan taksi konvensional mendapat tarif yang diatur sebab pemerintah sementara tarif taksi online bisa di tentukan sendiri.

“Tarif kita tentunya kalah karena tidak bisa tentukan tarif sendiri. Tapi mereka mampu tentukan  tarif sendiri, sehebat apa memang aplikator itu, ” jelasnya.

Saat ini, menurut Shafruhan kondisi taksi konvensional sudah sangat parah. Jumlah taksi yang beroperasi saat tersebut tinggal 20% dari total armada di Jabodetabek.

“Parah seluruhnya, lihat saja sendiri, memutar yang kelihatan sudah tinggal satu warna yang jalan. Kita pengusaha angkutan ijmal sedang dalam himpitan persaingan tidak sehat ditambah perihal pandemi corona, ” jelasnya.

Kondisinya berat karena biaya operasional pikulan taksi konvensional lebih banyak ketimbang taksi online. Salah satunya dalah pembayaran sewa pool taksi.

“Kita kan bayar pool, sementara taksi online itu jelas nggak jelas ada atau tidak, ” katanya.

BPTJ mau mengumumkan pembagian stiker ini secara resmi dalam zaman dekat. Hal ini juga sudah terkonfirmasi oleh Kepala Humas BPTJ, Budi Raharjo.

“Kami akan mengeluarkan siaran pers, nanti saja, ” jelasnya membalas pertanyaan soal apa benar BPTJ akan mengeluarkan penerbitan stiker angkutan khusus buat memasuki kawasan ganjil lengkap.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)