Joe Biden “Kalah” dari PPKM, Awas Koreksi IHSG Bisa Berlanjut

Jakarta, CNBC Indonesia –  Indeks Nilai Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah 0, 25% ke 6413, 892. Data perdagangan mencatat investor ganjil melakukan aksi jual bersih Rp 250, 23 miliar di pasar reguler, dengan nilai transaksi menyentuh Rp 18, 62 triliun.

Penurunan IHSG terjadi akibat aksi ambil untung ( profit taking ) memikirkan di awal perdagangan sempat melesat 1, 17% ke 6. 504, 992.

Untuk pertama kalinya sejak April 2019 IHSG kembali menyentuh level 6. 500. Dari level tersebut, IHSG pula berjarak kurang dari 3% menuju rekor tertinggi sepanjang masa enam. 693, 466 yang dicapai pada 20 Februari 2018.


Mayoritas bursa utama Asia juga menguat pada perdagangan Kamis kemarin yang memperkuat indikasi profit taking yang menimpa IHSG.

Pelantikan Joseph ‘Joe’ Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-46. Amerika Serikat merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, sehingga bagaimana pokok kebijakan sang presiden akan menyerahkan dampak besar ke pasar finansial global.

Meski demikian, euforia Joe Biden mulai meredup yang terlihat dari pergerakan pura saham AS (Wall Street) dengan bervariasi, meski indeks S& P 500 dan Nasdaq kembali me rekor tertinggi sepanjang masa.

Selain itu, Pemberlakuan Pemisahan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali kembali diperpanjang 2 pekan hingga 8 Februari mendatang.

Keputusan perpanjangan PPKM tersebut disampaikan oleh Ketua Komite Pengerjaan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Diperpanjangnya PPKM tentunya bisa menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia yang berdampak negatif ke pasar.

Secara teknikal, IHSG berhasil mencapai target penguatan 6. 500 kemarin, namun sayangnya berbalik melemah meski masih mampu bertahan di atas ke atas 6. 400. Pergerakan itu menunjukkan level psikologis 6. 500 menjadi resisten yang kuat, serta perlu mengakhiri perdagangan di atasnya untuk menguat lebih jauh.

Apalagi Selasa dan Rabu pekan lalu IHSG membentuk corak Doji. Suatu harga dikatakan membuat pola Doji ketika level introduksi dan penutupan perdagangan sama ataupun nyaris sama persis.

Secara psikologis, pola Doji menunjukkan pelaku pasar masih ragu-ragu mengesahkan arah pasar apakah akan menguat atau melemah.

IHSG bergerak di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200), yang menjadi modal untuk kembali bangkit dalam jangka panjang.

Indikator stochastic pada grafik harian kini sudah memasuki wilayah jenuh beli ( overbought ).

Grafik: IHSG  Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator , atau parameter yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di akan 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Sementara itu pada grafik 1 jam, stochastic bergerak turun menjauhi wilayah overbought.

Grafik: IHSG  1 Jam
Foto: Refinitiv

Belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan dibandingkan kemarin. Resisten terdekat berada di kisaran 6. 470 yang dekat dengan level tertinggi tahun ini.

Kemampuan menembus level tersebut akan membawa IHSG menguat ke level psikologis 6. 500.

Momentum penguatan akan bertambah jika level psikologis tersebut dapat ditembus, dan IHSG mengakhiri perdagangan di atasnya.

Tatkala, selama tertahan di bawah resisten, IHSG berisiko terkoreksi ke 6. 400. Support selanjutnya jika lapisan tersebut ditembus berada di enam. 365 dan 6. 330.

AWAK RISET CNBC  INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)