Holding BUMN Panas Bumi Mampu Gali Harta Karun Energi RI?

Jakarta, CNBC Indonesia kepala Indonesia memiliki sumber ‘harta karun’ dalam bidang energi yang betul besar, bahkan menjadi terbesar kedua di dunia. Sumber ‘harta karun’ energi tersebut yaitu panas bumi.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Gaya Mineral (ESDM), hingga simpulan 2020, Indonesia tercatat memiliki sumber daya panas bumi terbesar kedua di negeri yakni mencapai 23. 965, 5 mega watt (MW), di bawah Amerika Serikat yang memiliki sumber gaya sebesar 30. 000 MW.

Namun sayangnya, hingga 2020, pemanfaatan radang bumi di Indonesia gres 2. 130, 7 MW atau hanya 8, 9% dari total sumber daya yang ada.


Seperti diketahui, Departemen Badan Usaha Milik Negeri (BUMN) belakangan ini balik mengumumkan rencana pembentukan Holding BUMN Panas Bumi (geothermal). Lantas, apakah melalui pembentukan holding ini bakal membakar pemanfaatan panas bumi dalam Tanah Air?

Ketua Asosiasi Panas Dunia Indonesia (API) Priyandaru Effendi mengatakan, jika Holding BUMN Panas Bumi ini benar terealisasi, maka akan menjelma sebuah langkah positif yang diinisiasi oleh pemerintah.

“Kalau ini terealisasi, ini jadi langkah nyata inisiasi pemerintah menyatukan BUMN-BUMN Panas Bumi, ” paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Senin (01/03/2021).

Tiga BUMN yang bakal bergabung dalam holding ini adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT PLN Gas & Geothermal, dan PT Geo Dipa Energi (Persero). Menurutnya, dengan menyatukan BUMN-BUMN Panas Dunia akan membuat operasi ke depan menjadi lebih efisien.

“Ini bisa lebih efisiensikan operasi ke depan dan memobilisasi modal untuk ekspansi. Swasta meminta ada kerja sama yang baik, saling sinergi kembangkan panas bumi, ” harapnya.

Operasi yang lebih efisien menurutnya bisa menjadi penyelesaian agar panas bumi bisa berkembang cepat, dalam perihal yang sulit seperti saat ini.

“Jadi, kita harap bersama-sama holding dapatkan solusi agar mampu berkembang cepat, ” ungkapnya.

Sementara tersebut, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha berharap dengan adanya Holding BUMN Panas Bumi, bisa memberikan keuntungan untuk bangsa. Karena pembentukan holding tersebut menurutnya bertujuan untuk efisiensi, menumbuhkan market share, & mendorong persaingan geothermal dunia.

“Agar bawa hal yang positif di dalam persaingan industri geothermal negeri. Indonesia second largest sesudah Amerika Serikat (AS) sebab sisi cadangan geothermal, ” jelasnya.

Bila melihat dari kacamata DEN, pembentukan holding ini menurutnya tidak lepas dari target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Mengejar target adukan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 mendatang, menurutnya bukanlah order yang mudah.

Semua komponen EBT, termasuk panas bumi harus siapkan diri berpartisipasi. Pada 2020, berdasarkan target RUEN, daya terpasang PLTP seharusnya menyentuh 3. 109, 5 MW, tapi ternyata realisasinya anyar mencapai 2. 130, 7 MW.

“Target (PLTP) tahun 2025 adalah 7. 239 MW, secara capaian yang masih 2. 131 MW, artinya perintah sektor panas bumi tak mudah, ” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]
(wia)