‘Hantu’ Inflasi Bikin Wall Street Terguncang, Ambles 2% Lebih

Jakarta, CNBC Indonesia   – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, rontok merespons data inflasi di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar tersebut. Angka inflasi AS ini dikhawatirkan para investor akan memproduksi The Federal Reserve (The Fed) membuat perubahan kebijaksanaan moneter secara tiba-tiba.  

Indeks  Dow Jones Industrial Average mendarat 2% menjadi 33. 587, 66 atau kehilangan kira-kira 680 poin. Indeks S& P 500 turun 2, 1% menjadi 4. 063, 04, dan Indeks Komposit Nasdaq  2, 7%  menjelma 13. 031, 68.

Kekhawatiran kenaikan harga-harga menjadi perhatian kalangan investor dalam beberapa pekan terakhir. Ketakutan utama adalah lonjakan harga akan menyebabkan The Fed mengeluarkan kebijakan sendat dan hal itu mengguncang pasar.


Departemen Tenaga Kerja melaporkan Indeks Makna Konsumen (CPI) naik 4, 2% pada April 2021 dibandingkan dengan April 2020, jauh di atas ekspektasi, menurut data Departemen Gaya Kerja.

Sepertiga dari kenaikan CPI bulan ke bulan disebabkan sebab lonjakan harga mobil & truk bekas sebesar 10%. Tiket pesawat juga terangkat secara signifikan dari Maret, tanda lain pemulihan sesudah kelemahan terkait pandemi.

Art Hogan, kepala strategi pasar di National Securities, mengatakan harga dalam banyak area ini harus dinormalisasi begitu lebih penuh pasokan tersedia.

“Yang terjadi, akhirnya, kehormatan tinggi menetapkan harga luhur, ” kata Hogan. “Itu hanya berarti bahwa ketika harga menjadi terlalu mulia, ada respons pasokan, serta respons pasokan mungkin makan waktu cukup lama namun pasti akan datang. ”

The Fed mengatakan melihat lonjakan kehormatan ini sebagai sementara dan tidak memerlukan perubahan pada kebijakan moneter.

Tapi “pasar mengatakan tak mungkin Fed dapat tahu angka-angka ini dan tak menyesuaikan kebijakan moneter, di jangka waktu yang bertambah cepat dari yang kami antisipasi, ” kata Hogan.

[Gambas:Video CNBC]
(hps/hps)