Di Tengah Pandemi, Muncul Sentimen Tentu Buat Pasar Modal

Jakarta, CNBC Indonesia kepala Pasar modal Indonesia sempat menyentuh titik terendah pada Maret 2020 akibat merebaknya Covid-19, masih bergerak volatil hingga hari ini dengan dipengaruhi oleh berbagai sentimen. Meski demikian pasar modal Indonesia berangkat mendapatkan sentimen positif, seperti dengan terjadi di negara lain.

Dewan Komisioner Otoritas Bantuan Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengucapkan penguatan pasar modal didorong sebab investor domestik ritel net buy mencapai Rp 1, 5 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 5, 06 triliun. Meski dia mengakui IHSG tahu turun ke level 5. 006 karena adanya rilis data deflasi, dan angka PDB Indonesia dalam kuartal II-2020 hal ini menghasilkan investor masih wait and see.

“Sampai 28 Juli penghimpunan dana di pasar simpanan sebesar Rp 54, 1 triliun, dengan 28 emiten baru. Saya sadar ada penurunan, dan harapan kami setelah ekonomi tumbuh otomatis perusahaan lebih banyak penghimpunan dana di pasar modal, ” prawacana Wimboh dalam konferensi pers Perkembangan Kebijakan Kondisi Terkini Sektor Bantuan Keuangan, Selasa (4/8/2020).


OJK mencatat ada penurunan keinginan penghimpunan dana melalui penawaran umum, baik secara jumlah maupun jumlah. Pada Juli 2019, total penawaran umum sebanyak 94 dengan nilai Rp 109, 18 triliun, sementara pada Juli 2020 jumlah permintaan umum sebanyak 73 dengan nilai Rp 54, 13 triliun.

Per 28 Juli 2020 OJK mencatat dana yang dihimpun melalui 28 perusahaan yang IPO senilai Rp 3, 28 triliun, Penawaran Umum Terbatas senilai Rp 9, 52 triliun, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) EBUS Tahap I senilai Rp 12, 79 triliun, dan PUB EPUB EBUS Tahap II senilai Rp 28, 85 triliun.

“Di pasar modal tentunya mau banyak emiten baru, dan sampai saat ini beberapa emiten di pipeline. Tapi dengan pertumbuhan positif akan mempercepat realisasi emiten pertama di pasar modal, ” sebutan Wimboh.

OJK juga mencatat nilai penawaran umum terbesar dilakukan oleh sektor keuangan sebesar 52, 86%. Kemudian infrastruktur, utility, dan transportasi sebesar 19, 05%, dan pertambangan sebesar 10, 03%, kemudian industri dasar dan kimia 5, 56%. Sementara penggunaan sedekah penawaran umum sebagian besar digunakan untuk modal kerja sebesar 55, 85%, pembayaran utang 21, 62%, dan ekspansi 14, 25%, sisanya untuk biaya emisi berdasarkan prospektus, penyertaan, dan akuisisi.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)