Deal! 5 Kreditor Restui Restrukturisasi Utang Waskita Rp 19 T

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebanyak lima bank kreditor menyetujui restrukturisasi kredit BUMN karya PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dengan outstanding senilai Rp 19, 3 triliun.

Nilai tersebut mencapai 65% dari total pinjaman Waskita yang mencapai Rp 29, 26 triliun sejak seluruh kreditornya. Hanya selalu belum diungkapkan detail bersentuhan dengan besaran perubahan kembang dan tenor atas pinjaman-pinjaman tersebut.

Kelima bank tersebut antara asing PT Bank Negara Nusantara (Persero)  Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero)  Tbk (BMRI), PT Bank Kaum Indonesia (Persero)  Tbk (BBRI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT BPD Jawa Barat serta Banten Tbk (BJBR).


Waskita dan kelima kreditornya ini telah menandatangani Perjanjian Pokok Alterasi Bisnis dan Restrukturisasi Keuangan yang merupakan bagian sebab kesepakatan restrukturisasi tersebut.

Menteri Badan Usaha Milik Negeri (BUMN) Erick Thohir mengutarakan saat ini masih ada 35% kredit yang sedang harus direstrukturisasi. Dia berniat proses tersebut bisa menjelma pendorong pemulihan perusahaan.

“Saya mengapresiasi janji lima kreditor dan tadbir Waskita Karya. Restrukturisasi 65% adalah kepercayaan yang tak boleh disia-siakan. Walau masih ada 35% lagi dengan perlu diperjuangkan, ini menjelma katalis untuk mempercepat pulihnya Waskita Karya baik dengan keuangan maupun bisnis. Juga untuk meningkatkan keyakinan serta optimisme dari kreditur asing, dan para mitra kegiatan, ” kata Erick pada siaran persnya, Jumat (16/7/2021).

Tak hanya dengan restrukturisasi, namun perbaikan dan penyehatan perusahaan pula harus dilanjutkan dengan memperbaiki landasan GCG, lakukan efisiensi dan transformasi besar-besaran, refocusing, dan jalankan divestasi aset-aset yang diperlukan.

Sejalan dengan itu, Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan kesepakatan secara lima kreditor ini hendak menjadi momentum serta kiprah awal baru yang sangat baik bagi perbaikan kedudukan keuangan serta kinerja operasional Waskita.

“Kami berharap supaya kreditor lain juga mampu segera menyepakati dan menanggung proses restrukturisasi Waskita. Mulia harapan kami bahwa pelaksanaan dari perjanjian ini sanggup segera dilaksanakan, ” terangnya.

Sementara tersebut, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengungkapkan pentingnya restrukturisasi untuk sektor infrastruktur. Pertama untuk mendukung proses alterasi bisnis perusahaan yang banyak menjalankan proyek strategis infrastruktur nasional.

Lebih lanjut, Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengucapkan kesepakatan ini merupakan realisasi komitmen Bank Mandiri bersama Himbara untuk mendukung keinginan Waskita Karya, serta memelihara agar ekosistem sektor wujud tetap kondusif guna mengakselerasi pembangunan infrastruktur nasional.

Hal senada disampaikan Direktur Utama BRI Sunarso yang mengungkapkan bahwa suara ini dapat jadi momentum positif dan perlu dilakukan agar Waskita Karya bisa terus melanjutkan operasinya minus beban yang dapat menghambat transformasi bisnis dan keuangannya.

“Ini adalah bentuk komitmen bersama bank-bank nasional supaya Waskita Susunan tetap dapat melakukan aksi pengembangan usaha dan menutup proyek-proyek pembangunan nasional. Supaya ekonomi kita dapat berkembang ka arah yang jauh lebih baik, ” cakap Hery Gunardi, Direktur Pati Bank Syariah Indonesia.

Direktur Komersial serta UMKM Bank BJB Nancy Adistyasari mengungkapkan, Bank BJB telah menyepakati poin-poin pada restrukturisasi yang akan dilakukan melalui penandatanganan Perjanjian Sari Transformasi Bisnis dan Restrukturisasi Keuangan Waskita Karya bergabung kreditur lainnya.

Dengan demikian diharapkan sikap tersebut membantu Waskita di memulihkan kembali kondisi keuangannya.

Adapun jalan pemulihan kondisi usaha Waskita Karya muncul seiring secara tekanan yang dialami sebab perusahaan sejak tahun berantakan.

Tekanan ini disebabkan karena penurunan kinerja dan pendapatan bisnis wujud akibat pandemi Covid-19, pengganggu pendanaan yang dialami oleh beberapa pekerjaan, penundaan pembayaran atas beberapa proyek, dan proses divestasi aset ustaz tol yang masih berlaku.

Untuk menyalahi kondisi tersebut, pemerintah menggunakan Kementerian BUMN selaku pemegang saham Waskita Karya telah membentuk tim Percepatan Restrukturisasi Waskita Karya.

Kemudian, perusahaan juga menunjuk konsultan independen untuk menolong mengawal perusahaan untuk menyelenggarakan Transformasi Bisnis, Transformasi Keuangan, dan pengamanan legal.

Saat ini perusahaan tengah melakukan transformasi keuangan dengan mendivestasi aset-aset tiang tol-nya. Langkah ini diperkirakan akan dapat membantu kongsi untuk memulihkan kondisi keuangan agar menjadi lebih baik lagi ke depannya.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)