Caplok Emiten RI, Begini Sepak Tingkah laku Korea Development Bank

Jakarta, CNBC Indonesia – The Korea Development Bank (KDB), bank asal Korea Selatan, akan mengambilalih mayoritas kepemilikan saham emiten pembiayaan PT Tifa Finance Tbk (TIFA) dari pemegang saham eksisting sebesar 870. 763. 100 saham yang mewakili 80, 65% dari total modal yang ditempatkan dan disetor perseroan.

Akuisisi ini akan menerbitkan perubahan pengendalian dalam perseroan oleh KDB, perusahaan yang didirikan & tunduk kepada hukum negara Republik Korea yang kantor pusatnya tercatat berada di 14 Eunhaeng-ro, Yeongdeungpo-Seoul, Korea Selatan.

Bagaimana sebetulnya sepak KDB?


KDB  sebetulnya sudah agak tertinggal dibanding perusahaan keuangan Korsel lain untuk masuk ke RI, walaupun sempat masuk ke bidang kongsi efek ketika secara tidak langsung mengakuisisi PT eTrading Securities dan mengganti namanya menjadi KDB Daewoo Securities.

Di Korsel, KDB menjadi pemilik Daewoo Securities Co setelah Grup Daewoo terpecah dan konglomerasi yang pernah menjadi chaebol  (konglomerat)   kedua terbesar Korsel tersebut dinyatakan bangkrut dan terpecah-pecah pada 1999.

Mirae Asset Securities kesimpulannya membeli Daewoo Securities dari KDB senilai 2, 39 triliun won Korea  (US$ 2 miliar) ataupun Rp 29 triliun (asumsi kurs Rp 12/won) dan entitasnya dalam Indonesia juga berganti nama menjelma PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Lembaga keuangan Korsel yang keberadaannya bertambah dulu di Indonesia adalah Kookmin Bank yang menjadi pemegang bagian ke PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) dan Hana Financial Group yang masuk ke Bank Kartika Manunggal dan sekarang sudah menjelma PT Bank KEB Hana Nusantara.

Perusahaan Korsel asing adalah Woori Bank yang sekarang menjadi pemegang saham mayoritas PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA), Nonghyup Investment Securities yang masuk ke dalam PT NH Korindo Sekuritas, dan Hanwha Life yang sekarang ada pada PT Hanwha Life Insurance Indonesia.

KDB  adalah bank BUMN yang didirikan sejak 1954 untuk membiayai dan mengelola order industri utama untuk meluaskan perluasan industri dan ekonomi nasional Negeri Ginseng.

Saat tersebut, perseroan bergelar bank terbesar ke-61 dunia pada 2018 dan berkah kebijakan pemerintah Korsel,   KDB sudah memfasilitasi normalisasi manajemen kongsi bermasalah melalui restrukturisasi korporasi serta konsultasi serta menyediakan pendanaan modal bagi proyek pengembangan strategis.

Mengacu laporan keuangan tahunan KDB  2019, disebutkan perusahaan ini kini didukung oleh 3. 410 pegawai. Perusahaan mendapatkan rating Aa2 sejak Moody’s, AA dari S& P, dan AA- dari Fitch Ratings.

“Pada tahun 2019, KDB  fokus mendukung pertumbuhan inovatif yang dibutuhkan di era revolusi digital ini. Kami memberikan sokongan keuangan sebesar 15, 9 triliun won kepada perusahaan yang jalan di bidang pertumbuhan inovatif jadi bagian dari Revolusi Industri ke-4, ” tulis manajemen KDB  pada laporan keuangan.

Biji investasi 15, 9 triliun won yang dibenamkan KDB  itu setimpal dengan Rp 191 triliun.

“Kami juga memperkuat karakter KDB NextRound  untuk berkembang menjelma platform dukungan komprehensif untuk investasi awal, dengan demikian kami menyediakan ekosistem awal yang inovatif, ” tulis KDB.

Tarikh lalu, nilai investasi yang dikucurkan grup KDB  mencapai 741, 1 miliar  won atau setara Rp 8, 89 triliun, naik 46% dari tahun sebelumnya 509, 1 miliar won.

Perusahaan ini didukung satu head office regional, 9 dewan cabang luar negeri, 5 anak usaha, 9 kantor perwakilan. Era ini tercatat perusahaan sudah menimbulkan surat utang mencapai US$ dua miliar atau setara Rp 28 triliun, 500 juta euro penerbitan  green bond , dan 700 juta dolar Australia untuk penerbitan  Kangoroo bond.

Pada simpulan 2019, aset KDB mencapai KRW 268, 84 triliun (Rp 3. 226 triliun), naik 3, 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan pinjaman yang naik  sebesar 4, 9% secara tahunan menjadi  149, 92 triliun won atau Rp satu. 799 triliun.

Liabilitas  KDB naik 3, 5% YoY  mencapai rekor 233, 76 triliun won atau Rp 2. 805 triliun, terutama disebabkan oleh penambahan simpanan dan kewajiban lainnya. Simpanan mencapai 36, 31 triliun won, naik 7, 0%, dan kewajiban lainnya tercatat  47, 27 triliun, naik 11, 7% year-on-year.

Modal  KDB  bertambah sebesar  555 miliar won atau Rp 6, 6 triliun pada tahun 2019, secara total ekuitas mencapai 35, 07 triliun won, naik 2, 4% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penambahan modal ini hasil lantaran penerbitan saham baru  KDB  pada pemerintah Korea selama tahun itu, serta peningkatan surplus modal dan laba ditahan, ” kata manajemen.

Total penyaluran nilai pada akhir 2019 berjumlah  128, 34 triliun, naik 5, 5%. Rasio NPL  (kredit bermasalah) mendarat dari 4, 23% pada 2018 menjadi 2, 71% pada 2019.

Laba bersih turun menjadi 279, 14 miliar won atau Rp 3, 35 triliun, turun dari tahun sebelumnya 705, 98 miliar atau Rp 8, 5 triliun. Pendapatan bunga bersih mencapai 1, 87 triliun  won atau Rp 22 triliun, mendarat dari tahun sebelumnya 2, 17 triliun won.

Tercatat, 9 anak usaha perusahaan yaitu:

1. KDB Asia (HK) Ltd

dua. KDB Ireland Ltd

3. KDB Bank Uzbekistan Ltd

4. KDB Bank Europe Ltd

5. Banco KDB Do Brazil SA

6. KDB Capital Corporation

7. KDB Infrastructure Investment Asset Management Co Ltd

8. KDB Biz Co Ltd

9. KDB Investment Co Ltd

Di 2019, manajemen mengungkapkan sudah mengambil kantor perwakilan di Indonesia. KDB juga menjalankan berbagai program luar negeri untuk mengembangkan potensi investasi global.

“KDB menawarkan program yang ditujukan untuk melatih spesialis regional di negara-negara di mana kami  berencana untuk memperluas, dan yang memiliki potensi berpengaruh untuk tumbuh, termasuk Indonesia dan Vietnam. Selain itu, karyawan terpilih juga menerima pelatihan di tempat kerja di kantor-kantor KDB pada New York, London, dan Singapura, ” tulis manajemen.